Lompat ke isi utama

Berita

Jangan Cuma Nyoblos, Bawaslu Palembang Tantang Warga Kawal Suara Rakyat

Suasana keakraban antar-penyelenggara pemilu usai mengisi podcast di Kantor KPU Palembang, Rabu (4/11/2026). Tampak berfoto bersama, Ketua Bawaslu Kota Palembang Khairil Anwar Simatupang (tengah), Anggota KPU Divisi Teknis Penyelenggara Pemilu Sri Maryati (kedua kiri), Kasubbag Parmas dan SDM Triananda Rindha A (kiri), Host Podcast JFT Penata Kelola Pemilu Heny Kurniati (kedua kanan), serta Pranata Humas Bawaslu Kota Palembang Zainal Prima Putra (kanan).

Suasana keakraban antar-penyelenggara pemilu usai mengisi podcast di Kantor KPU Palembang, Rabu (4/11/2026). Tampak berfoto bersama, Ketua Bawaslu Kota Palembang Khairil Anwar Simatupang (tengah), Anggota KPU Divisi Teknis Penyelenggara Pemilu Sri Maryati (kedua kiri), Kasubbag Parmas dan SDM Triananda Rindha A (kiri), Host Podcast JFT Penata Kelola Pemilu Heny Kurniati (kedua kanan), serta Pranata Humas Bawaslu Kota Palembang Zainal Prima Putra (kanan).

PALEMBANG, BWSPLG — Demokrasi bukan sekadar rutinitas lima tahunan datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), mencoblos, lalu melupakan prosesnya. Bawaslu Kota Palembang menolak pemahaman sempit tersebut. Lewat obrolan hangat di Kantor KPU Palembang, Ketua Bawaslu, Khairil Anwar Simatupang, melempar tantangan kepada warga: jangan cuma nyoblos, mari ikut kawal kualitas Pemilu dan Pilkada, Rabu (4/11/2026).

Dalam forum yang dipandu Heny Kurniati itu, diskusi mengalir tanpa sekat. Demokrasi tidak dibahas sebagai sekadar aturan tertulis, melainkan sebuah perjalanan panjang yang menuntut kejujuran dan keterlibatan aktif dari seluruh lapisan masyarakat.

“Demokrasi bukan sekadar datang ke tempat pemungutan suara dan memberikan pilihan. Tetapi demokrasi mengajarkan kita tentang arti kejujuran, keadilan, transparansi, serta keterlibatan aktif seluruh kalangan masyarakat,” ujar Heny membuka perbincangan.

Membedah hal tersebut, Khairil menyoroti penyakit klasik yang masih membelenggu demokrasi: rasa acuh tak acuh warga terhadap politik. Menurutnya, menjauh dari isu politik sama saja dengan menyerahkan nasib dan masa depan kota kepada pihak lain tanpa pengawasan.

“Masyarakat Kota Palembang tidak boleh ansih (acuh) terhadap politik, tidak risih terhadap politik, harus lebih aware (sadar), harus lebih care (peduli), dan harus lebih sensitif lagi terhadap isu-isu politik. Sebab, di tangan kepala daerah itulah nasib kita semua digantungkan,” tegas Khairil.

Lebih jauh, Khairil mengingatkan bahaya nyata di balik pesta demokrasi, seperti gempuran hoaks dan politik uang. Ia menegaskan, jumlah pengawas Bawaslu yang terbatas tidak akan pernah cukup untuk membendung kecurangan tanpa adanya kesadaran kolektif dari warga.

Menutup obrolan, Heny memberikan pesan yang menohok. Ia mengingatkan, ukuran keberhasilan sebuah pemilu tidak boleh dinilai dengan cara yang dangkal.

“Keberhasilan demokrasi tidak diukur dari terlaksananya pemungutan suara saja, tetapi juga dari integritas penyelenggara, kualitas pengawasan, partisipasi masyarakat, serta kepercayaan publik terhadap hasil dari proses pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah,” pungkas Heny.

Langkah ini membuktikan Bawaslu Palembang tidak hanya duduk manis menunggu laporan. Bersama KPU, mereka hadir sebagai penggerak utama demokrasi. Sinergi ini akan terus dirawat, memastikan Pilkada dan Pemilu di Kota Palembang benar-benar berjalan dengan jujur, adil, dan berintegritas.

Penulis: Zainal Prima Putra
Editor: A. Fajri Hidayat
Foto: Humas KPU Palembang